
Anjanesia.com – Ketika bicara tentang kesehatan mulut, kebanyakan dari kita langsung membayangkan gigi putih, napas segar, dan senyum menawan. Tapi pernahkah kamu bertanya: bagaimana kondisi gusimu saat ini?
Meski sering diabaikan, penyakit gusi adalah ancaman besar yang diam-diam bisa merusak kesehatan mulut, bahkan tubuh secara keseluruhan. Di Indonesia, penyakit gusi adalah masalah kesehatan mulut kedua terbesar setelah gigi berlubang. Namun sayangnya, masih banyak orang yang tidak sadar akan bahayanya.
“Penyakit gusi adalah ‘silent killer’. Gejalanya muncul samar, seringkali tanpa rasa sakit di awal. Tapi jika dibiarkan, bisa berakibat fatal, tidak hanya bagi gigi dan mulut, tapi juga untuk kesehatan tubuh secara menyeluruh,” ujar drg. Usman Sumantri, MSc, Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI).
Gusi bukan sekadar jaringan penyangga gigi. Ia adalah fondasi yang menjaga gigi tetap kokoh dan berfungsi optimal. Namun, banyak orang menganggap sepele tanda-tanda awal kerusakan gusi seperti bau mulut atau gusi berdarah.
Menurut drg. Usman, gigi dan gusi memiliki struktur seperti “kantung” (pocket). Saat sisa makanan menumpuk dan tidak dibersihkan, terbentuklah karang gigi, tempat ideal bagi bakteri berkembang.
“Kalau sudah terbentuk karang gigi, gigi akan jadi lengket, sisa makanan mudah menempel, dan infeksi bisa muncul dengan cepat,” ungkap drg. Usman saat menghadiri Peresmian Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2025 di Plaza Timur GBK, Jakarta
Tahapan Penyakit Gusi: Jangan Tunggu Terlambat
Penyakit gusi berkembang secara bertahap. Menurut Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D, Ketua AFDOKGI, ada dua fase utama yang wajib dikenali:
- Gingivitis
- Gejala: gusi merah, bengkak, dan mudah berdarah
- Kerusakan masih bisa dipulihkan jika ditangani dini
- Periodontitis
- Infeksi menyebar ke jaringan penyangga gigi hingga tulang
- Gigi bisa goyang hingga tanggal; kerusakannya permanen
Namun yang lebih mengejutkan, infeksi gusi tidak hanya berhenti di mulut.
“Bakteri dari gusi yang terinfeksi bisa masuk ke aliran darah dan meningkatkan risiko penyakit sistemik seperti jantung, stroke, diabetes, hingga komplikasi kehamilan,” jelas Prof. Suryono.
Bahkan pada ibu hamil, infeksi gusi yang tidak ditangani bisa memicu kelahiran prematur atau bayi dengan berat lahir rendah. Peradangan dari gusi melepaskan zat inflamasi yang mengganggu organ lain, dari jantung hingga paru-paru.
“Kesehatan gusi ternyata berdampak ke jantung, paru-paru, bahkan kehamilan. Ini bahaya tersembunyi yang banyak tidak disadari masyarakat,” tegas Prof. Suryono.
Kebiasaan Buruk = Gusi Rusak
Masih banyak orang mengira gusi yang berdarah adalah hal biasa. Padahal, itu sinyal awal penyakit gusi. Apalagi jika kamu punya kebiasaan berikut:
- Malas menyikat gigi setelah makan
- Merokok atau konsumsi gula berlebih
- Tidak pernah scaling (pembersihan karang gigi)
- Mengabaikan flossing dan obat kumur
“Kadang giginya terlihat sehat, tapi sakit terus. Ternyata yang bermasalah gusinya, bukan giginya,” jelas drg. Usman.
Plak gigi yang dibiarkan selama tiga hari saja bisa menyebabkan peradangan pada gusi. Jika dibiarkan, gigi akan goyang dan akhirnya lepas.
Siapa yang Rentan Terkena Penyakit Gusi?
Menurut Prof. Suryono, beberapa kelompok yang rentan terkena penyakit gusi meliputi:
- Penderita autoimun dan diabetes
- Ibu hamil
- Orang dengan luka di mulut
- Pekerja kantoran yang jarang menyikat gigi setelah makan
“Saya sendiri selalu bawa sikat gigi ke kantor. Setelah makan siang, pasti langsung sikat gigi. Ini penting untuk menjaga kesehatan gusi,” ujar Prof. Suryono sembari memperlihatkan sikat gigi yang dibawanya.
Sementara itu, menurut dr. drg. Julita Hendrartini, M.Kes, AAK, Ketua ARSGMPI, banyak pasien datang terlambat ke dokter gigi.
“Gusi saya sering berdarah kalau menggosok gigi,” adalah keluhan umum yang ternyata indikasi awal gingivitis.
Sayangnya, sebagian besar baru memeriksakan diri setelah rasa sakit muncul atau gigi sudah goyang.
“Kalau sudah goyang, itu sudah sangat terlambat. Penanganannya jadi lebih sulit dan butuh perawatan berkali-kali,” jelas drg. Julita.
Perawatan paling sering dilakukan saat ini adalah scaling, yaitu proses membersihkan karang gigi. Banyak pasien merasa lebih nyaman dan gejala berdarah pun berkurang setelah scaling.
Dikatakan drg. Julita bahwa merawat gusi bukan hal rumit. Lakukan langkah-langkah sederhana berikut:
– Sikat gigi 2 kali sehari dengan pasta gigi khusus gusi
– Gunakan benang gigi (flossing)
– Berkumur dengan obat kumur antiseptik
– Scaling rutin setiap 6 bulan
– Kunjungi dokter gigi meski tidak merasa sakit
Kini, banyak produk pasta gigi yang mengandung formula khusus untuk merawat gusi, bukan hanya memutihkan gigi.
Jangan Tunggu Gigi Goyang
Kesehatan mulut bukan hanya soal senyum indah. Gusi yang sehat adalah fondasi tubuh yang kuat.
Penyakit gusi mungkin datang tanpa gejala yang mencolok, tapi efek jangka panjangnya bisa serius, bahkan fatal. Jangan tunggu sampai terlambat.
“Mulut adalah pintu masuk berbagai penyakit, dan gusi adalah benteng pertahanan yang harus dijaga,” tandas drg. Usman.
Jadi, rawat gusimu mulai sekarang. Karena di balik senyum sehat, ada gusi kuat yang menopangnya. Jangan tunggu sakit, rawat gusi sekarang! (Anj)

