Lebih dari Sekadar Warna: Cinta, Harapan, dan Perjuangan dalam Balutan Pink
Community, Education, Health, Lifestyle
Anjanesia.com – Setiap bulan Oktober, warna merah muda menghiasi berbagai sudut kota, dari pusat perbelanjaan hingga media sosial. Tapi bagi mereka yang pernah menyentuh atau disentuh oleh kisah kanker payudara, warna pink bukan sekadar simbol. Ia adalah cerita tentang keberanian, kesedihan, harapan, dan cinta yang tak pernah menyerah.
Dan di balik warna itu, ada sosok-sosok yang memilih untuk tidak tinggal diam. Melalui gerakan Indonesia Goes Pink 2025, komunitas Lovepink kembali menggelar rangkaian kampanye yang tak hanya menyuarakan pentingnya deteksi dini kanker payudara, tapi juga menghadirkan ruang yang hangat untuk berbagi, mendengar, dan bergerak bersama. “Butuh upaya lebih untuk meningkatkan kepedulian terhadap kanker payudara. Melalui Indonesia Goes Pink, Lovepink menggelar kegiatan yang memadukan olahraga, edukasi kesehatan, hingga aktivitas kreatif dan seni untuk menyentuh berbagai lapisan masyarakat, termasuk kalangan muda,” ujar Dede Gracia, Chairwoman Lovepink, dalam temu media baru-baru ini.
Tahun ini, langkah Lovepink meluas. Tidak hanya terpaku di satu kota, tetapi menjangkau lebih banyak hati, lebih banyak cerita. Bandung akan menjadi kota pertama yang disinggahi pada 12 Oktober 2025, disusul oleh Padang, Jakarta, Surabaya, Malang, Jember, Pekanbaru, Palembang, dan Yogyakarta. Setiap kota menjadi saksi bahwa kepedulian bisa menular, dan solidaritas bisa dibangun dari hal-hal yang sederhana, seperti berjalan bersama.
Langkah Kecil yang Menyelamatkan Hidup
Di tengah semarak kegiatan, ada satu pesan penting yang ingin terus digaungkan: kenali tubuhmu sendiri. Melalui edukasi tentang SADARI (Periksa Payudara Sendiri) dan SADANIS (Periksa Payudara secara Klinis), Lovepink ingin menyampaikan bahwa mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.
Tak butuh biaya mahal atau alat medis canggih untuk mulai peduli. Cukup dengan menyentuh, meraba, dan mendengarkan tubuh sendiri secara rutin, sebuah kebiasaan kecil yang bisa menyelamatkan masa depan seseorang.
“Kehadiran Pink Fest diharapkan dapat memperluas dampak kampanye, sekaligus menjadi simbol solidaritas bagi para pejuang kanker payudara di Yogyakarta dan sekitarnya,” ungkap Dede.
Pink Fest: Merayakan Hidup, Menghormati Perjuangan
Puncak perayaan Indonesia Goes Pink 2025 akan berlangsung di Yogyakarta, dalam sebuah festival bertajuk Pink Fest. Acara ini bukan hanya selebrasi, tapi ruang untuk saling menguatkan. Mulai dari Pink Run (5 km), Pink Walk (2,5 km), hingga Pink Market yang melibatkan komunitas lokal, semuanya dirancang untuk merayakan semangat dan keberanian para perempuan yang tengah atau telah melalui perjuangan melawan kanker.
Targetnya bukan sekadar angka, tapi hati. Lebih dari 1.000 peserta diharapkan hadir, namun yang lebih penting adalah energi positif dan harapan yang tersebar lewat tawa, peluh, dan pelukan hangat di tengah semarak festival.
“Program pemeriksaan USG payudara gratis yang dijalankan Lovepink sejauh ini sudah menjangkau lebih dari 17.000 perempuan,” tambah Dede—angka yang bukan hanya statistik, melainkan simbol dari ribuan harapan baru.
Pink Soiree: Di Balik Glamor, Ada Kepedulian
Masih dalam semangat yang sama, Lovepink menghadirkan acara penuh kehangatan bertajuk Pink Soiree: Tribute to Lovepink, yang akan digelar pada 28 Oktober 2025 di La Moda Café, Plaza Indonesia. Mengusung konsep intimate high tea, acara ini memadukan seni, musik, dan fashion dalam nuansa syukur dan penghormatan bagi para pejuang kanker payudara.
Dua nama besar pun ikut turun tangan, Ivan Gunawan dan Harvey Malaiholo.Sebanyak 16 koleksi busana eksklusif akan diperagakan, hasil karya Igun yang didedikasikan untuk ketangguhan dan kelembutan perempuan. Sementara Harvey akan membawa lantunan lagu-lagu penuh makna—bukan sekadar menghibur, tapi menyentuh jiwa. “Sebagai public figure dengan follower banyak, saat saya posting sedekah atau tentang kebaikan yang like comment sedikit, beda dengan postingan gosip yang mendapatkan respons lebih banyak. Tak masalah, saya yakin sekali di antara jutaan follower itu pasti ada yang nyangkut edukasi itu. Jadi saya nggak akan nyerah posting yang baik-baik,” tegas Ivan Gunawan.
Dengan segala platform yang ia miliki, TikTok, Instagram, hingga podcast, Igun ingin mengubah cara orang melihat kanker payudara.
“Bukan soal bagaimana cara pengobatannya, namun lebih seru bagaimana mencegahnya. Jadi kalau ada perempuan yang terdiagnosis kanker payudara, dia akan tahu langkah apa yang harus dilakukan,” katanya.
Hal yang sama disampaikan Harvey dengan tutur lembut namun penuh keyakinan.
“Berbuat baik bisa dilakukan kapan saja. Soal itu saya percaya, kita akan menuai apa yang kita tabur. Walaupun topik soal kanker tidak menarik, ya kita lakukan saja. Kalau yang kita tanam baik, kita juga akan memetik hasil yang baik,” ujarnya.
Karena Perjuangan Tak Pernah Sendirian
Bagi Farida, Ketua Pelaksana Indonesia Goes Pink 2025, setiap langkah kecil memiliki makna yang besar jika dilakukan bersama. “Melalui Indonesia Goes Pink, kami tidak hanya mengajak masyarakat untuk lebih sadar terhadap pentingnya deteksi dini, tetapi juga membuka ruang kolaborasi bagi semua pihak untuk ikut andil dalam perjuangan ini,” tandasnya. Dari kolaborasi dengan Adi Husada Cancer Center, Dema Justicia UGM, The Gaia Hotel Bandung, Plaza Indonesia, hingga dukungan dari perusahaan-perusahaan seperti United Tractors, Astra Agro Lestari, Mitsubishi Motors, dan Sorella, semua berjalan dengan satu tujuan, memberi harapan.
Di balik setiap kaus merah muda, di balik setiap langkah kaki saat Pink Run, atau di balik tiap tetes air mata haru di Pink Soiree—ada cinta. Cinta yang menyala untuk mereka yang telah pergi, untuk mereka yang masih berjuang, dan untuk mereka yang baru akan menyadari betapa berharganya tubuh dan hidup ini.
Dan lewat Lovepink, cinta itu terus menemukan jalannya. Bukan untuk menghapus luka, tapi untuk merangkulnya dengan harapan. (Anj)

