SKYE Dibuka Kembali: Babak Baru di Atas Kota
Lifestyle
Anjanesia.com – Di ketinggian lantai 56 Menara BCA, Jakarta selalu terlihat sedikit berbeda. Hiruk pikuknya terasa lebih tenang, lampu-lampu kota membentuk pola, dan waktu seolah berjalan dengan ritmenya sendiri. Di titik inilah SKYE kembali membuka pintu—bukan sekadar sebagai sebuah tempat, melainkan sebagai kelanjutan dari cerita yang telah hidup lebih dari satu dekade.
Setelah satu tahun penyempurnaan, SKYE hadir kembali dengan wajah yang lebih jernih dan karakter yang semakin matang. Sejak awal kemunculannya, tempat ini dikenal sebagai ruang untuk merayakan, berbagi cerita, atau sekadar berhenti sejenak dari rutinitas kota.
Pembukaan kembali ini tidak mengubah esensinya, melainkan memperhalusnya, lebih hangat, lebih berniat, dan lebih berfokus pada kebersamaan.
Ruang yang Bertransformasi Bersama Waktu
Interior SKYE kini dirancang ulang oleh Willis Kusuma, arsitek yang dikenal dengan pendekatannya yang sensitif terhadap konteks. Sentuhan modern terasa lebih lembut melalui penggunaan tekstur alami, garis yang diperhalus, logam yang dipoles, serta palet warna sederhana yang mengikuti perubahan langit Jakarta, dari siang, senja, hingga malam.

Ruangannya mengalir tanpa jeda: dari area makan dalam ruangan yang terasa hangat dan kontemporer, menuju teras terbuka dengan pandangan kota yang luas. Dua ruang privat disiapkan untuk pertemuan yang lebih intim, sementara dua bar hadir sebagai bagian dari desain yang menyatu, bukan sekadar pelengkap. Keseluruhan atmosfer terasa lebih ramah, kurang formal, lebih ekspresif, dan mengundang orang untuk tinggal sedikit lebih lama.
Dapur yang Tenang, Rasa yang Terjaga
Di jantung pengalaman SKYE yang baru, hadir restoran grill kontemporer Barat dengan pendekatan yang bersahaja namun penuh perhatian. Fokusnya sederhana: bahan berkualitas, teknik yang konsisten, dan rasa yang tidak berlebihan. Menu yang disajikan terasa familiar, tetapi dengan kedalaman yang menunjukkan ketekunan di balik dapur.





Beberapa hidangan menjadi penanda arah tersebut. Sir Harry Orange-Fed Wagyu Steak, misalnya, berasal dari sapi Australia yang diberi pakan biji-bijian lokal dan bubur jeruk. Hasilnya adalah daging dengan tekstur lembut, marbling yang kaya, dan sentuhan rasa jeruk yang halus. Aburi Miyazaki Wagyu hadir sebagai hidangan kecil yang seimbang, dibakar ringan, dipadukan dengan kentang renyah, duxelles jamur, aioli truffle, dan kaviar Avruga.
Bone Marrow Escargot menawarkan kombinasi kehangatan dan kesegaran, dengan mentega Relais de Venise sebagai dasar yang menyatukan sumsum tulang panggang dan escargot. Iga pendek rebus dimasak perlahan hingga empuk, diperkaya chipotle asap, acar daun bawang hangus, sandung lamur renyah, serta jus miso karamel yang memberi lapisan rasa yang berani namun terkontrol.
Untuk pilihan yang lebih ringan, Cappellini Vongole menghadirkan kesederhanaan yang menenangkan: pasta angel hair dan kerang putih dalam rasa yang jernih dan langsung. Sementara itu, Pappardelle Mentega Sumsum Tulang menunjukkan kesabaran dapur, sausnya dimasak selama 72 jam, kemudian dipadukan dengan mentega buatan sendiri, melapisi pasta segar tanpa terasa berat.
Minuman sebagai Bagian dari Cerita
Program minuman di SKYE dirancang dengan pendekatan yang terencana namun tetap menyenangkan. Di area lounge, seri Fruit Roulette mengeksplorasi bagaimana satu buah dapat membentuk suasana. Given Lemon menampilkan versi segar dari koktail sour klasik dengan liqueur keju dan oleo lemon. Velvety Almond menghadirkan keseimbangan antara kehangatan scotch, yoghurt almond, dan sentuhan absinthe dengan tekstur beludru. Nektar Jeruk memadukan baijiu, madu jeruk, dan nanas dalam koktail yang cerah dan seimbang.

Di area makan, koleksi Taste of Places, atau Recollection, terinspirasi dari cita rasa lintas budaya. Mitos Kapulaga berfokus pada kehangatan rempah dengan gin Shiraz dan vermouth kering, sementara Coriander Spin terasa ringan dan aromatik, memadukan crème de cacao, ketumbar, lemon, dan soda.
Ada pula Skye Ombré, koktail yang hanya disajikan saat matahari terbenam. Dimulai ketika matahari menyentuh cakrawala dan berakhir sesaat setelah ia menghilang, minuman ini menjadi ritual singkat yang menandai transisi hari. Untuk pilihan non-alkohol, mocktail disiapkan dengan pendekatan tak terduga melalui acar dan soda buatan sendiri, tetap sederhana namun diperhatikan dengan detail yang sama.
Ruang Santai dan Perayaan
Sebagai ruang yang kerap menjadi bagian dari perayaan, SKYE dikenal sebagai salah satu yang pertama di Jakarta menghadirkan House Bubbles, pilihan prosecco hingga sampanye per gelas. Koleksi minumannya dikurasi dengan cermat, berjumlah sekitar 300 botol, dengan rentang harga dari IDR 900.000++ hingga label langka yang mencapai IDR 99.000.000++. Pendekatannya bukan pada kelimpahan, melainkan ketepatan.

Program hiburan juga kembali dihidupkan. Lounge SKYE, yang dibuka mulai pukul 16.00, akan menghadirkan kolaborasi DJ dan musisi instrumental, menciptakan alur suara yang mengikuti perubahan suasana dari senja hingga malam. Musik, pemandangan, dan ritme kota bertemu tanpa terasa dipaksakan.
Matahari terbenam tetap menjadi momen inti. Para tamu akan diingatkan dengan lembut ketika waktunya mendekat, memberi kesempatan untuk berhenti sejenak, melangkah ke luar, dan menikmati panorama. Di waktu-waktu tertentu, SKYE juga menghadirkan kolaborasi kesehatan berupa sesi suara dan gerakan lembut, menambahkan dimensi baru pada pengalaman di ketinggian.
Babak baru ini akan berlanjut dengan berbagai rangkaian acara, termasuk perayaan akhir tahun yang menandai awal perjalanan selanjutnya. SKYE tetap berada di tempat yang sama, di atas kota, namun kini hadir dengan ketenangan, kejelasan, dan kedalaman yang membuat setiap kunjungan terasa seperti menemukan kembali sesuatu yang sudah lama dikenal, dengan cara yang lebih baik. (Anj)

