JF3 2025: Saatnya Fashion Indonesia Menyuarakan Visi Baru

Community, Fashion, Lifestyle, News

Anjanesia.com – Dunia fashion Indonesia tengah bersiap menghadapi babak baru. JF3 Fashion Festival 2025, yang telah menjadi agenda rutin dalam kalender mode Tanah Air, kembali hadir membawa semangat transformasi. Mengusung tema “Recrafted: A New Vision,” festival ini bukan hanya soal tren, tetapi soal keberanian mendobrak batas, menyulam ulang identitas, dan merayakan warisan budaya lewat cara yang lebih relevan dengan zaman.

Lebih dari sekadar peragaan busana, JF3 2025 hadir sebagai gerakan, sebuah panggilan bagi para kreator untuk berhenti berjalan di tempat dan mulai melangkah lebih jauh.

“Kami percaya bahwa fashion bukan sekadar benda. Fashion mencakup bahasa, warisan, seni, norma, etika, dan ilmu. Esensinya terletak pada keterampilan tangan. Namun agar tradisi bisa terpelihara, ia harus terus berkembang,” ujar Thresia Mareta, penasihat JF3 sekaligus pendiri LAKON Indonesia.

Transformasi, Bukan Sekadar Tren

Di usia ke-21 tahun, JF3 seperti membuka lembaran baru. Recrafted tak hanya bicara soal mengolah ulang bentuk, tapi juga menantang ulang pola pikir industri. Fashion bukan hanya tentang tampil memukau, tapi tentang refleksi nilai, akar budaya, dan keberlanjutan. 

“Seringkali kita terjebak dalam kenyamanan, dan hal ini membuat kita berjalan di tempat. Recrafted: A New Vision bukan hanya sekadar tema. Ini adalah sebuah gerakan. Ini waktunya untuk kita bergerak lebih jauh dengan derap langkah yang baru,” ujar Theresia. 

Mode Sebagai Diplomasi Budaya

JF3 2025 digelar di dua lokasi, 24–27 Juli di Summarecon Mall Kelapa Gading, dan 30 Juli–2 Agustus di Summarecon Mall Serpong. Sebanyak 45 desainer dan brand lokal siap memamerkan karya mereka, mulai dari Howard Laurent, Adrie Basuki, Hartono Gan, hingga LAKON Indonesia.

Tahun ini, JF3 juga memperluas jangkauannya secara internasional. Nama-nama seperti Victor Clavelly dan Héloïse Bouchot dari Prancis akan berkolaborasi langsung dengan brand lokal. Kehadiran Solène Lescouët, Ornella Jude Ferrari, dan Louise Marcaud pun menegaskan JF3 sebagai panggung diplomasi budaya yang semakin diperhitungkan.

Dari Asia, desainer muda dari Korea Selatan, Vietnam, Laos, hingga Thailand juga ikut menyemarakkan panggung. JF3 membuktikan bahwa mode bisa menjadi jembatan antarbudaya yang kuat.

Lebih dari Catwalk: Regenerasi, Inovasi, dan Ruang Baru

JF3 tak hanya menyorot desainer yang sudah mapan. Lewat Future Fashion Award, dua brand muda Indonesia akan mendapatkan mentoring intensif dan dukungan produksi dari LAKON Indonesia. Ada juga PINTU Incubator hasil kerja sama dengan Kedutaan Besar Prancis dan IFI, yang memasuki tahun keempatnya.

Di sisi lain, program seperti JF3 Model Search dan JF3 Talk memperkuat ekosistem, dari talenta baru di runway hingga diskusi strategis soal masa depan industri mode Indonesia. 

Soegianto Nagaria, Chairman JF3, mengatakan,” Memasuki dekade ketiga ini, JF3 fokus pada regenerasi. Kami percaya masa depan industri fashion Indonesia ada di tangan anak-anak muda yang berani bermimpi, bereksperimen, dan melampaui batas.”

Dengan ekosistem yang makin kuat dan dukungan lintas sektor, JF3 menjadi lebih dari festival tahunan, ia adalah ruang tumbuh, tempat kolaborasi, dan simbol harapan bagi arah baru fashion Indonesia.

Menurut Theresia, ditengah gempuran tren yang terus berubah, JF3 mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya, apa arti fashion bagi kita hari ini? Di sinilah Recrafted: A New Vision berbicara.

“Ini bukan sekadar tentang apa yang kita pakai. Ini tentang bagaimana kita memaknai masa depan. Fashion adalah warisan yang hidup, dan JF3 adalah panggung di mana warisan itu dipahat ulang menjadi visi baru,” kata Thresia.

JF3 2025 bukan hanya perayaan gaya, tapi refleksi tentang arah. Tentang bagaimana kita, sebagai bangsa dengan kekayaan budaya luar biasa, bisa hadir di percakapan global, bukan sekadar ikut, tapi memimpin. (Anj)