Dari Asia Tenggara ke Panggung Dunia: Jejak Linda Anggrea dalam BoF 500 Tahun 2025

Fashion, Lifestyle

Anjanesia.com – Di tengah riuhnya sorotan industri fashion dunia, sebuah nama dari Asia Tenggara menembus batas geografis dan persepsi, Linda Anggrea. Tahun ini, ia menjadi bagian dari BoF 500 Class of 2025, daftar bergengsi yang disusun oleh The Business of Fashion, sebuah pengakuan yang tak hanya mencerminkan prestasi pribadi, tetapi juga membawa cerita kolektif dari sebuah kawasan yang kerap luput dari lensa global.

BoF 500 bukan sekadar daftar. Ini adalah ruang yang hanya dihuni mereka yang benar-benar memberi arah pada industri, baik melalui kreativitas, kepemimpinan, maupun visi masa depan. Sejak pertama kali diluncurkan pada 2013, ia telah menjadi barometer pengaruh dalam dunia fashion. Dari Sabato De Sarno hingga Kim Kardashian, dari Victoria Beckham hingga Pharrell Williams, nama-nama dalam daftar ini adalah mereka yang tak hanya hadir di panggung, tetapi juga membentuk arah gerak industri. Tahun ini, Linda Anggrea berdiri di antara mereka, bersama sosok-sosok seperti Hailey Bieber, Veronica Leoni (Calvin Klein), dan Cynthia Erivo, dalam satu ruang yang merayakan kreativitas, kepemimpinan, dan keberanian untuk berpikir berbeda.

Bagi Linda, pencapaian ini bersifat pribadi, namun juga melampaui dirinya. “Pencapaian ini sangat personal bagi saya, namun jauh lebih besar dari itu,” ujar Linda Anggrea. 

Ia menambahkan, “Ini adalah bukti bahwa suara-suara dari Asia Tenggara kini didengar di panggung dunia. Kreativitas, story, dan kepemimpinan kita memiliki tempat yang sah dalam lingkup fashion global, tidak hanya dilihat, tapi juga diakui dan dirayakan.”

Ucapan itu diutarakannya dalam momen yang tidak hanya bersifat selebratif, tapi juga reflektif, dalam sebuah acara eksklusif di Paris, tempat para ikon industri dari seluruh dunia berkumpul, bukan untuk bersaing, melainkan saling melihat dan mendengarkan.

Linda bukan nama baru di dunia fashion Asia Tenggara. Sebagai CEO dari Buttonscarves dan Modinity Group, ia telah membangun merek yang tak hanya memiliki identitas visual yang kuat, tetapi juga membentangkan cerita tentang modernitas, nilai-nilai lokal, dan keterhubungan global. Di bawah kepemimpinannya, Buttonscarves tumbuh melintasi batas negara, menjangkau pasar internasional dengan narasi yang tetap berakar pada budaya asalnya.

Namun, yang membedakan perjalanan Linda adalah keberaniannya untuk mengambil ruang. Di industri yang kerap memusat pada barat, ia membawa perspektif yang berbeda, tanpa kehilangan kesadaran akan siapa dirinya dan dari mana ia berasal.

Masuknya Linda dalam daftar BoF 500 tahun ini bukan hanya simbol pencapaian individu. Ia juga menandai hadirnya Asia Tenggara dalam percakapan global yang selama ini terlalu sempit. Dalam daftar yang kini terdiri dari 1.613 nama dari 98 negara, keberadaan Linda menjadi titik kecil yang mewakili banyak cerita lain, yang selama ini mungkin belum sempat diceritakan.

Dari seorang perempuan yang memulai dengan mimpi membangun merek lokal, hingga menjadi bagian dari komunitas fashion global, kisah Linda mengingatkan bahwa pengaruh tak selalu datang dari pusat. Kadang, ia justru lahir dari pinggiran, dari mereka yang bersuara pelan, namun konsisten.

Dalam dunia yang terus bergerak, di mana perubahan datang dari banyak arah, mungkin yang paling penting bukan hanya siapa yang naik ke panggung, tapi suara siapa yang akhirnya terdengar. (Anj)