Bukan Sekadar Wangi, Parfum Kini Jadi Identitas & Transformasi Industri Perawatan Pakaian

Lifestyle

Anjanesia.com – Di dunia di mana kesan pertama kerap terbentuk bahkan sebelum kata terucap, aroma telah menjelma menjadi bahasa personal. Wangi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan cara seseorang meninggalkan jejak, mengekspresikan diri, bahkan membekukan memori dalam setiap tetesnya. Di Indonesia, perubahan cara pandang terhadap parfum berlangsung begitu cepat, dan berdampak luas, tidak hanya pada industri kecantikan, tetapi juga perawatan pakaian.

Lonjakan tren parfum di Indonesia terbukti signifikan. Data Google Trends menunjukkan peningkatan minat lebih dari 300 persen sejak 2023, sementara penjualan e-commerce kategori parfum tercatat naik hingga 53 persen. Tahun 2025 pun menjadi momentum penting bagi industri wewangian, ditandai dengan dominasi brand lokal, selera generasi muda yang semakin adaptif terhadap tren, serta maraknya berbagai event yang menghadirkan ragam produk parfum. Parfum kini bukan lagi barang eksklusif untuk momen khusus; ia telah menjadi bagian dari keseharian.

Karina Mandala, Fine Fragrance Perfumer yang dikenal luas sebagai pakar parfum kelas dunia, melihat fenomena ini sebagai pergeseran budaya. “Parfum bukan sekadar produk komersial; setiap semprotan adalah pengalaman, interpretasi emosi, dan fragmen memori yang diracik dengan presisi tinggi,” ujar Karina saat temu media di XXI Kotakasablanka, Jakarta, beberapa waktu lalu. 

Menurut Karina, perubahan ini juga tampak dari cara masyarakat memaknai dan menggunakan parfum. “Kalau 10 tahun yang lalu, parfum masih dipakai hanya untuk special occasion. Sekarang, tren parfum sudah bergeser, menjadi kebutuhan, bagian dari kehidupan,” tuturnya. Ia bahkan mengakui, “Saya sering keluar rumah rasanya ada yang kurang. Harus touch up, biar wangi lagi.”

Menghormati Tradisi, Menjaga Standar

Bagi Karina, memahami parfum dimulai dari hal sederhana: cara menyebutnya. Ia menyoroti masih banyak orang Indonesia yang keliru melafalkan Eau de Parfum.

“Dalam bahasa Perancis, pelafalannya adalah Eau de Parfum. Jadi dibacanya ‘o de’, bukan ‘ayu’. Penting supaya kita enggak salah sebut,” jelasnya saat berbincang dalam peluncuran inovasi terbaru SoKlin Eau de Parfum di XXI Kota Kasablanka, Jakarta.

Pelafalan yang tepat, menurutnya, bukan sekadar detail teknis, melainkan bentuk penghormatan terhadap akar budaya parfum dan tradisi panjang industri wewangian kelas dunia.

Di balik romantisme aroma, ada disiplin tinggi yang tak terlihat. “World class parfum itu lebih kepada parfum yang diracik dengan bahan-bahan berkualitas dan proses yang sangat ketat,” tegas Karina.

Ia menjelaskan bahwa setiap produk harus melewati tim quality control yang memastikan seluruh komponen sesuai spesifikasi, dari komposisi bahan, warna, hingga densitas. 

“Jika tidak memenuhi kriteria, produk akan langsung kami tolak dan tidak dilanjutkan ke tahap produksi,” katanya. 

Penelitian mendalam dan uji ketahanan menjadi bagian tak terpisahkan untuk memastikan parfum memenuhi standar world class luxury.

Inspirasi dari Grasse

Inspirasi, bagi Karina, bisa datang dari mana saja, lukisan, momen sederhana, hingga perjalanan yang membekas. Salah satu karyanya terinspirasi dari kunjungannya ke Grasse, Prancis Selatan, kota yang dikenal sebagai pusat parfum dunia.

“Parfum Mawar ini terinspirasi dari perjalanan saya setelah lulus sekolah di Perancis. Saat itu saya berkesempatan ke Grasse,” kenangnya.

Ia menggambarkan suasana musim semi di sana dengan detail yang hidup. “Bulan Mei menghadirkan suasana yang begitu menyenangkan, udaranya tidak terlalu panas, namun juga tidak dingin. Hangatnya sinar matahari terasa lembut di kulit, berpadu dengan kesegaran udara yang membuat momen itu begitu berkesan.”

Pengalaman tersebut diterjemahkannya menjadi aroma yang memadukan kesejukan lembut dan hangatnya cahaya matahari. “Parfum adalah cara saya membekukan memori dalam wujud aroma. Setiap semprotan bukan hanya menghadirkan wangi, tapi juga menghadirkan suasana dan kenangan,” ujarnya.

Wangi sebagai Identitas

Selera konsumen Indonesia pun berkembang. Jika dahulu aroma bunga sederhana sudah cukup, kini preferensi bergeser ke floral yang lebih kompleks dengan sentuhan powdery atau musky. “Sekarang aromanya floral yang lebih kompleks. Dulu sekadar wangi bunga biasa, tapi kini harus punya lapisan aroma yang beragam, terasa lebih premium, dan memancarkan kesan elegan,” jelas Karina.

Ia menegaskan, “Parfum kini bukan lagi sekadar wangi, tetapi juga simbol identitas dan ritual yang mendukung penampilan sehari-hari. Bahkan, saat ini semakin banyak orang mencari karakter wangi mewah dengan kualitas kelas dunia agar dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam beraktivitas.”

Perubahan preferensi inilah yang turut mendorong inovasi di sektor lain. Melihat tren parfum yang semakin kuat serta pertumbuhan positif pasar detergen di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, WINGS Group Indonesia melalui WINGS Care meluncurkan SoKlin Eau de Parfum, rangkaian produk perawatan pakaian berparfum konsentrat pertama di Indonesia.

Produk ini diformulasikan dengan World-Class Luxury Perfume karya Karina Mandala dan menghadirkan pengalaman wangi sejak proses pertama mencuci hingga pakaian dikenakan. Rangkaian ini mencakup detergen bubuk (concentrated perfume powder detergent), detergen cair (concentrated perfume liquid detergent), serta pelicin pakaian (concentrated perfume ironing aid). Seluruhnya dilengkapi teknologi Perfume Lock yang diklaim mampu menjaga keharuman hingga 33 hari.

Joanna Elizabeth Samuel, Head of Fabric Care Category WINGS Group Indonesia, menjelaskan bahwa dinamika pasar mendorong inovasi yang lebih relevan. “Preferensi konsumen saat ini semakin mengarah pada produk yang memiliki nilai tambah. Dalam memilih detergen, konsumen tidak lagi hanya mencari daya bersih, tetapi juga manfaat lebih seperti formula 3 in 1, wangi yang lebih tahan lama, serta harga yang tetap terjangkau,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Melihat perkembangan pasar detergen yang positif dan tren parfum yang semakin kuat, SoKlin kemudian mengintegrasikan keduanya melalui SoKlin Eau de Parfum. Kami berharap inovasi ini dapat memudahkan masyarakat merasakan wangi World-Class Luxury Perfume setiap hari, apapun pakaian dan aktivitasnya.”

Antusiasme serupa disampaikan oleh Caitlin Halderman. “Menurutku parfum bukan lagi sekadar pelengkap penampilan, melainkan cara mengekspresikan diri dan membangun rasa percaya diri. Wangi kelas dunia tidak hanya bisa kita dapatkan dari produk perawatan tubuh saja, tetapi sekarang juga bisa dimulai dari pakaian yang kita gunakan setiap hari,” ungkapnya.

Pada akhirnya, tren parfum di Indonesia menunjukkan satu hal, aroma telah berevolusi menjadi bagian dari gaya hidup modern, personal, elegan, dan sarat makna. Ia tidak lagi berhenti pada botol di meja rias, melainkan meresap ke berbagai aspek kehidupan, termasuk pakaian yang dikenakan setiap hari.

Sebagaimana dikatakan Karina, “Parfum adalah cara kita mengekspresikan diri tanpa kata. Aroma yang kita pilih adalah bahasa kita sendiri.” (Anj)