
Anjanesia.com – Najwa Shihab terlihat berjalan di tengah kerumunan di arena Car Free Day Jakarta pada Minggu (10/8). Kali ini, ia tak sedang memimpin wawancara politik atau mengulas kebijakan publik. Namun Ia hadir untuk satu misi penting, mengajak masyarakat melawan penipuan digital lewat gerakan #NomorModusNoMore bersama IM3.
Di Indonesia, ancaman penipuan digital sudah bukan hal sepele. Data menunjukkan 65% masyarakat pernah menjadi target scam setiap minggu, dan 64% korban spam menerima gangguan melalui panggilan atau pesan. Bahkan, kerugian mencapai Rp476 miliar hanya dalam tiga bulan terakhir.

“Penipuan digital bukan sekadar gangguan. Ini adalah kejahatan modern yang mengeksploitasi kepercayaan,” tegas Najwa saat membuka parade SATSPAM, pada Minggu (10/8).
Teknologi AI dan 5G, Kini Ada di Sisi Kita
Melihat kondisi ini, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) melalui brand IM3 tak tinggal diam. Mereka meluncurkan fitur SATSPAM (Satuan Anti Scam dan Spam), sebuah teknologi perlindungan digital otomatis berbasis AI dan jaringan 5G.
SATSPAM dirancang sebagai pelindung dari dalam, bukan aplikasi tambahan, tapi bagian dari sistem IM3 itu sendiri. Ia bekerja senyap tapi aktif, memfilter pesan dan panggilan mencurigakan sebelum sempat mengganggu pengguna.
“Melalui SATSPAM, IM3 menghadirkan pengalaman digital yang lebih aman dan adaptif terhadap ancaman scam dan spam,” ungkap Bilal Kazmi, Director & Chief Commercial Officer IOH.

Berbeda dengan fitur keamanan lain yang seringkali memerlukan pengaturan manual atau instalasi aplikasi tambahan, SATSPAM hadir terintegrasi langsung dalam jaringan IM3 dan aktif secara otomatis saat pelanggan menggunakan layanan IM3 dengan paket data aktif.
Sistem ini bekerja secara real-time untuk mendeteksi, menyaring, dan memberikan peringatan terhadap potensi penipuan melalui SMS maupun panggilan telepon dari nomor mencurigakan, sehingga pelanggan tidak perlu lagi menanggapi pesan atau panggilan tersebut. Pengguna juga dapat berkontribusi dengan melaporkan nomor mencurigakan melalui aplikasi myIM3.
“Melalui SATSPAM, IM3 mengambil langkah proaktif untuk menghadirkan pengalaman digital yang lebih aman dari ancaman penipuan bagi masyarakat Indonesia. Kami percaya, rasa aman untuk berinteraksi di ruang digital adalah hak semua orang,” kata Bilal Kazmi.
Ia mengatakan, “SATSPAM bukan sekadar fitur, melainkan bentuk nyata dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap ruang digital yang semakin kompleks, membuktikan bahwa masa depan dunia digital harus dimulai dari rasa aman yang merata untuk semua.”
Bukan Sekadar Fitur, Tapi Gerakan Literasi Digital
Namun yang menarik, IM3 tidak berhenti di teknologi. Mereka memilih langkah berbeda: mengangkat isu ini ke ranah publik, dengan menggandeng figur sekelas Najwa Shihab. Bukan tanpa alasan—Najwa bukan hanya dikenal kritis, tapi juga dipercaya lintas generasi.
“Saya mendukung SATSPAM karena ini bukan cuma fitur, tapi bentuk keberpihakan. Perlindungan digital harus inklusif dan mudah diakses. Rasa aman adalah hak semua orang,” jelas Najwa, yang tampak antusias menyapa peserta parade SATSPAM.
Kampanye ini tidak hanya bicara soal keamanan digital, tapi juga mengajak publik melek literasi digital, mengenali modus-modus penipuan, dan berani bertindak saat melihat tanda-tanda scam.
Strategi Baru: Teknologi Bertemu Sosok Publik
Langkah IM3 ini mencerminkan tren baru dalam komunikasi merek, di mana teknologi tidak lagi dipasarkan hanya dengan jargon teknis, tapi lewat pesan sosial yang menyentuh sisi personal masyarakat.
Menggandeng figur publik seperti Najwa menjadi strategi cerdas, ia memberi kedalaman makna, menjembatani pesan edukatif dari perusahaan ke khalayak luas.
Ini bukan sekadar kampanye, ini adalah gerakan.
Keamanan Digital Adalah Gaya Hidup Baru
Dalam dunia yang makin terkoneksi, keamanan digital kini menjadi bagian dari gaya hidup. Bukan hanya untuk yang paham teknologi, tapi untuk semua orang yang menggunakan ponsel, mengakses media sosial, atau sekadar menerima pesan dari nomor tak dikenal.
SATSPAM dan kampanye #NomorModusNoMore adalah langkah kecil tapi signifikan. Karena pada akhirnya, perlindungan digital bukan soal siapa yang punya gawai tercanggih, tapi siapa yang paling siap menjaga dirinya dari ancaman yang tak terlihat.
Dengan kehadiran sosok seperti Najwa Shihab, gerakan ini terasa lebih nyata. Ia bukan hanya memimpin narasi, tapi juga mengajak kita semua untuk ikut serta—karena keamanan digital bukan urusan segelintir orang, tapi tanggung jawab bersama. (Anj)

